PEKANBARU, HARIANBERANTAS- Pendidikan tidak hanya tentang bagaimana peserta didik memahami materi pelajaran, tetapi juga bagaimana mereka mampu memahami dan menghadapi persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini, sekolah memiliki peran penting dalam menumbuhkan kepedulian tersebut. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pedagogi hijau.
Pedagogi hijau merupakan pendekatan pembelajaran yang menghubungkan proses pendidikan dengan lingkungan dan keberlanjutan. Peserta didik tidak hanya mempelajari lingkungan melalui teori, tetapi juga diajak untuk mengamati, memahami permasalahan, dan melakukan tindakan nyata.
Pendekatan ini menjadi relevan diterapkan di Riau yang memiliki kondisi lingkungan yang beragam. Persoalan seperti kebakaran hutan dan lahan, kerusakan gambut, sampah, pencemaran, hingga kerusakan ekosistem pesisir merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Karena itu, pembelajaran di sekolah dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengenal persoalan tersebut sejak dini. Materi pelajaran tidak harus selalu disampaikan di dalam kelas. Lingkungan sekitar juga dapat menjadi sumber belajar.
Dalam pembelajaran Biologi, misalnya, materi ekosistem dapat dikaitkan dengan kondisi lingkungan yang ada di sekitar peserta didik. Guru dapat mengajak siswa mengamati keanekaragaman tumbuhan, mengidentifikasi permasalahan sampah, mempelajari ekosistem mangrove, atau melakukan kegiatan penghijauan.
Pembelajaran seperti ini membuat peserta didik tidak hanya mengetahui konsep, tetapi juga memahami hubungan antara manusia dan lingkungan. Mereka belajar bahwa tindakan sederhana yang dilakukan sehari-hari dapat memberikan dampak terhadap lingkungan.
Salah satu bentuk kegiatan yang dapat dilakukan adalah penanaman dan pemeliharaan mangrove. Kegiatan menanam mangrove di kawasan pesisir Desa Sejangat, Bengkalis, misalnya, dapat menjadi pengalaman langsung untuk mengenal pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik dapat belajar bahwa mangrove bukan hanya tumbuhan yang hidup di wilayah pesisir. Ekosistem mangrove juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kawasan pesisir.
Pedagogi hijau juga dapat diterapkan melalui model pembelajaran seperti Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL). Peserta didik dapat diberikan permasalahan lingkungan yang ada di sekitar mereka, kemudian mencari informasi, berdiskusi, menyusun solusi, dan melakukan tindakan bersama.
Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna karena peserta didik terlibat langsung dalam proses menemukan dan menyelesaikan masalah.
Namun, penerapan pedagogi hijau juga memiliki tantangan. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai dan tidak semua guru memiliki pengalaman dalam mengembangkan pembelajaran berbasis lingkungan. Waktu pembelajaran dan keterbatasan kegiatan di luar kelas juga dapat menjadi pertimbangan.
Tantangan tersebut tidak berarti pedagogi hijau sulit diterapkan. Penerapannya justru dapat dimulai dari kegiatan sederhana dan tidak selalu membutuhkan biaya besar. Sekolah dapat memulai dari kebiasaan memilah sampah, menghemat air dan listrik, merawat tanaman, menjaga kebersihan lingkungan, atau memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.
Guru juga memiliki peran penting dalam menghubungkan materi dengan kondisi lingkungan. Ketika peserta didik melihat secara langsung permasalahan yang ada di sekitarnya, pembelajaran dapat menjadi lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Pada akhirnya, pedagogi hijau bukan sekadar mengajarkan peserta didik untuk menjaga lingkungan. Lebih dari itu, pendekatan ini dapat membantu membentuk generasi yang memiliki pengetahuan, kepedulian, kemampuan berpikir kritis, serta kemauan untuk mengambil tindakan.
Bagi Riau, upaya tersebut menjadi penting. Sekolah dapat menjadi tempat awal untuk menumbuhkan generasi yang tidak hanya memahami kekayaan lingkungan daerahnya, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.
Pedagogi hijau tidak harus dimulai dari program besar. Ia dapat dimulai dari hal sederhana di lingkungan sekolah dan dilakukan secara konsisten. Dari kebiasaan kecil tersebut, sekolah dapat menjadi ruang belajar yang tidak hanya mendidik manusia yang cerdas, tetapi juga generasi yang peduli terhadap lingkungan dan masa depan.***

