PEKANBARU, HARIANBERANTAS- Sampah plastik masih menjadi persoalan yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Dilingkungan sekolah, botol minuman sekali pakai, kemasan makanan, hingga kantong plastik sering kali menjadi bagian dari sampah yang dihasilkan setiap hari.
Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya menjaga kebersihan sekolah tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat sampah, tetapi juga membutuhkan perubahan kebiasaan dari seluruh warga sekolah.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai melalui kebiasaan membawa tumbler. Kebiasaan kecil ini dapat menjadi awal untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Namun, ketika sampah plastik masih dihasilkan, diperlukan pula upaya agar sampah tersebut tidak langsung berakhir sebagai limbah yang tercampur dengan sampah lainnya.
Salah satu bentuk upaya tersebut dapat dilakukan melalui penyediaan kotak donasi sampah plastik.
Kotak donasi sampah plastik yang ditempatkan di lingkungan sekolah dapat menjadi tempat bagi warga sekolah untuk mengumpulkan sampah plastik yang masih dapat dikelola.
Keberadaannya sekaligus menjadi pengingat bahwa sampah yang kita hasilkan memiliki dampak dan perlu ditangani dengan cara yang tepat.
Langkah sederhana seperti ini dapat menjadi bagian dari penerapan pedagogi hijau di sekolah. Lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk belajar menjaga lingkungan melalui tindakan nyata. Peserta didik dapat melihat secara langsung bahwa kebiasaan membawa tumbler, mengurangi penggunaan plastik, dan memilah sampah merupakan bagian dari perilaku yang dapat dilakukan setiap hari.
Budaya sekolah minim sampah plastik juga tidak dapat dibangun oleh peserta didik seorang diri. Guru, tenaga kependidikan, dan pihak sekolah memiliki peran yang sama pentingnya. Keteladanan guru, ketersediaan fasilitas, serta kebiasaan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung perilaku ramah lingkungan.
Konsep Zero Waste to School pada akhirnya bukan sekadar tentang membuat sekolah tanpa sampah. Lebih dari itu, konsep ini mengajak warga sekolah untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya dan lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Perubahan tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara terus-menerus.
Dari membawa satu tumbler, memilah satu botol plastik, hingga memasukkannya ke dalam kotak donasi, setiap tindakan memiliki arti ketika dilakukan bersama.
Kemudian, kebiasaan kecil yang dibangun di lingkungan sekolah dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan dan memahami bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari tempat mereka belajar setiap hari.***(Rahma Annisa Candra)

