Diduga Ada Pembiaran, Praktek Prostitusi Berkedok Salon di Kota Bengkalis Menjamur

BENGKALIS, HARIANBERANTAS- Praktik prostitusi berkedok salon dan kebugaran diduga marak beroperasi di Kota Bengkalis khususnya Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis.

Keberadaan tempat-tempat prostitusi tersebut diduga dibiarkan oleh sejumlah instansi terkait, mulai dari Pemerintah Kelurahan, Kecamatan, Dinas Pariwisata Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bengkalis, hingga Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP dan kepolisian setempat

Ungkapan ini disampaikan seorang warga yang enggan disebut identitasnya kepada media Harian Berantas, Rabu, (09/09/2026).

“Seratus persen tempat salon yang ada di Bengkalis seperti di Jalan Rumbia (Salon Dedek-red), Jalan Hasanudin (salon Cece dan Raya Salon), dan di Gg, Pasar Sukaramai (Salon Acin) melakukan praktik prostitusi. Salon dan perawatan tubuh itu hanya modus dan kedoknya saja. Tidak ada kegiatan kesehatan. Yang ada hanya transaksi prostitusi,” tegas sumber.

Berdasarkan pantauan dan informasi yang dihimpun, transaksi umumnya ditawarkan secara terbuka, baik melalui aplikasi pesan MiChat, maupun negosiasi langsung di lokasi..

Sumber Wartawan Harian Berantas juga menunjukkan tangkapan layar percakapan dengan seorang pekerja berinisial IC (20 tahun). Dalam pesan tersebut, IC menawarkan layanan “short time” dengan tarif Rp300.000 untuk satu kali, serta menyertakan penawaran “full service” kepada calon pelanggan.

Maraknya praktik prostitusi ini memicu kekhawatiran mendalam warga setempat. Mereka (warga-red) mendesak pemerintah maupun aparat hukum segera melakukan penindakan tegas.

“Kami minta Pemda Bengkalis segera melakukan sweeping dan menutup seluruh tempat yang terafiliasi dengan praktik prostitusi tersebut,” ujar salah satu warga.

Ia mengingatkan bahwa persoalan ini bukan sekadar pelanggaran norma kesusilaan, melainkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat

Menurut catatan, kata sumber, sepanjang tahun 2026 ini tercatat penambahan 35 kasus HIV positif di Kabupaten Bengkalis, yang sebagian besar kasus yang ditemukan berasal dari kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL).

Jumlah ini kata dia, berdasarkan hasil pengungkapan yang dilakukan oleh KPA Kabupaten Bengkalis.

“Untuk saat ini di Kabupaten Bengkalis, kasus HIV yang terpantau terus meningkat. Hal ini juga karena semakin banyak masyarakat yang sadar melakukan pemeriksaan secara mandiri di fasilitas kesehatan, termasuk di RSUD Mandau maupun RSUD Bengkalis,” ujarnya.

Menurutnya, meningkatnya kasus yang terdeteksi tidak serta-merta menunjukkan peningkatan penularan dalam jumlah yang sama. Hal itu juga dipengaruhi semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan HIV secara mandiri.

Ia (warga-red) meminta pemerintah Kelurahan, Kecamatan, Dinas Pariwisata, Satpol PP Kabupaten Bengkalis tidak lagi menutup mata terhadap dugaan pembiaran ini.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Pemda Bengkalis atau Dinas Pariwisata maupun Satpol PP terkait dugaan tersebut. Namun, Redaksi membuka ruang kepada pihak yang merasa dirugikan untuk menyampaikan koreksi dan hak jawabnya melalui contak person atau WA: 081263111154 ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *