MEDAN, HARIANBERANTAS- Ibu korban, Yestin Laia yang berada di sebelah peti anak kandungnya tak kuasa menahan air mata melihat anaknya terbaring kaku. Kain putih menyelimuti tubuh anaknya karena terlihat di bagian wajah dan mata korban terdapat lebam. “Putri ku, anakku sayang, tolong pak Kapolda Sumut, Kapolri dan DPR dan Presiden dan Wakil Presiden, apa yang terjadi dengan anakku,” tangis Yestin Laila.
Yestin terus menerus mengeluarkan air mata sembari sesekali menatap foto semasa hidup anaknya. Yestin mengatakan baru dua bulan putrinya dijemput oleh ibu mertuanya. Namun kini putrinya sudah meninggal dunia. “Dua bulan yang lalu, setelah dijemput oleh ibu mertuanya di Jakarta, ku antar sampai ke bandara. Ku bilang jaga anakku,” ujarnya.
“Apa yang terjadi dengan anakku. Bantu lah kami Kapolri, Kapolda Sumut dan Presiden dan Wakil presiden. Anak kesayanganku yang tak banyak cakap,” katanya.
Wanita berbaju hitam ini mengatakan bahwa anaknya bukan datang untuk minta rujuk melainkan ibu mertua dan mantan suami brigadir IH yang selalu menghubunginya. Ibu korban sempat melarang untuk menemui suaminya dikarenakan putrinya merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh IH.
Tetapi demi cucunya, ia merelakan anak kembali bertemu dengan IH. “Mama saya jemput ya demi anak-anak dulu ya, terus saya bilang dipikirkan dulu ya, dan terakhir mertuanya datang menjemputnya. Ku relakan demi cucu, aku berat sebenarnya karena ada takutku, karena anak ku ini jadi korban KDRT, dulu dia cerita, sebelum rujuk ini, sampai ku buang rasa takut ini,” katanya
Yestin mengatakan informasi yang mengatakan anaknya sudah resmi bercerai dengan IH tidaklah benar. Ia megatakan keluarganya tidak pernah mendapatkan informasi perceraian dari pengadilan dan tidak ada surat cerai.
“Kami tidak pernah didatangi dan ditanya, tidak pernah anakku dipanggil untuk cerai dan tidak pernah ditelepon. Kalau memang cerai kenapa anakku kau jemput IH, kenapa minta kembali rujuk lagi,” lanjutnya.
Ibu korban mengatakan terdapat luka lebam di tubuh anaknya yang sudah meninggal. “Anakku luka lebam di kedua matanya, di lehernya dan bekas suntikan dibawah dagunya. Sampai sekarang tidak ada hasil autopsi, kenapa bunuh diri tetapi tidak ada hasil sama kami,” pungkasnya.
Pihak keluarga dengan tegas menolak seluruh kronologi yang diungkap oleh Polrestabes Medan. Keluarga menemukan banyak kejanggalan kematian WLG di rumah suaminya Bripka IH di Kompleks Bumi Asri Medan pada Minggu (02/08/2027)***

